Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Kita kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku sudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai gaun pendek, rambut ku di ikat, memakai sarung tangan cukup panjang dan sepatu.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh setelah selsai melawan jahat itu aku kembali seperti semula.
aku segera pulang ke rumah.
-BERSAMBUNG-
Semua sendirian
di malam cemas
Ku bersenandung lagu
kegelapan yang tampaknya gemetar
Aku bisa merasakan kekuatan dalam setiap kata dan setiap catatan yang
sepotong keajaiban
Jika Engkau, menyebar lengan lebar
Itu adalah melodi yang berdering ke masa depan. Dari hati ku, ku akan menyanyi
Ku ingin mengirim suara ku, ke tempat yang jauh.
Pada hari itu harapan bergantian
Ungkapan ini mengepakkan Membawa keinginan ini, besok aku akan menyanyi
Selama orang berharga di sini
Itu lebih mempesona dari kemarin
Ku ingin bertemu senyum itu lagi sementara ku sibuk ku lupa
Hal-hal yang tak tergantikan
Aku ingat semua orang
menjadi hangat, terlalu kaku, dan tidak jujur
Setiap kali Engkau mengambil jalan memutar
Ku pikir Engkau berjanji dengan bintang pertama
Cerita yang tidak akan pernah berubah Dari hatiku mari kita bernyanyi bersama
Seperti sudut lebar dunia
Bahkan air mata meluap
Suatu hari itu akan bersinar menciak Burung dan angin musim semi
Mengusung suara ombak bahkan matahari musim panas
Sementara mata merefleksikan kembali cinta selamanya akan diberitahu Dari hati ku, ku akan menyanyi
Ku ingin mengirim suara ku, ke tempat yang jauh.
Pada hari itu harapan bergantian
Ungkapan ini mengepakkan Membawa keinginan ini, besok aku akan menyanyi
Selama orang berharga di sini
Itu lebih mempesona dari kemarin
Ku ingin bertemu senyum itu lagi
Ku bersenandung lagu
kegelapan yang tampaknya gemetar
Aku bisa merasakan kekuatan dalam setiap kata dan setiap catatan yang
sepotong keajaiban
Jika Engkau, menyebar lengan lebar
Itu adalah melodi yang berdering ke masa depan. Dari hati ku, ku akan menyanyi
Ku ingin mengirim suara ku, ke tempat yang jauh.
Pada hari itu harapan bergantian
Ungkapan ini mengepakkan Membawa keinginan ini, besok aku akan menyanyi
Selama orang berharga di sini
Itu lebih mempesona dari kemarin
Ku ingin bertemu senyum itu lagi sementara ku sibuk ku lupa
Hal-hal yang tak tergantikan
Aku ingat semua orang
menjadi hangat, terlalu kaku, dan tidak jujur
Setiap kali Engkau mengambil jalan memutar
Ku pikir Engkau berjanji dengan bintang pertama
Cerita yang tidak akan pernah berubah Dari hatiku mari kita bernyanyi bersama
Seperti sudut lebar dunia
Bahkan air mata meluap
Suatu hari itu akan bersinar menciak Burung dan angin musim semi
Mengusung suara ombak bahkan matahari musim panas
Sementara mata merefleksikan kembali cinta selamanya akan diberitahu Dari hati ku, ku akan menyanyi
Ku ingin mengirim suara ku, ke tempat yang jauh.
Pada hari itu harapan bergantian
Ungkapan ini mengepakkan Membawa keinginan ini, besok aku akan menyanyi
Selama orang berharga di sini
Itu lebih mempesona dari kemarin
Ku ingin bertemu senyum itu lagi
- Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpuf
Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpufHalo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- -
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - See more at: http://100frendgirl.blogspot.com/2014/06/karagan-ku-serial-sailor-grils-yess.html#sthash.Wy0EqtHM.dpufHalo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- - Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh.
-BERSAMBUNG- -
Halo, namaku Rina Laluna. Aku biasa
dipanggil Luna. Aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Hobiku bermain musik.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh setelah selsai melawan jahat itu aku kembali seperti semula.
Pagi yang cerah ketika aku berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku pergi sekolah. Aku memasuki ruang sekolah yang indah.
"Kring kring," bel sekolah berbunyi.
"Nah, anak-anak. Ktia kedatangan murid baru, lo. Ayo, maju sini, perkenalkan namamu," kata Bu Guru.
Aku pun maju dan memperkenalkan namaku.
"Halo teman-teman, perkenalkan anamu Rina Laluna, kalian boleh memanggilku Luna," ucapku.
"Luna, silakan duduk kembali," kata Bu Guru.
Aku pun berjalan kemabli ke bangkuku. Ketika aku kembali ke bangku, ada seorang anak perempuan yang menatap sinis ke arahku.
Sepulang sekolah, aku langsung membaringkan badanku.
"Ahh, panas! Bibi, tolong buatkan jus jeruk, ya," ucapku. Aku teringat anak perempuan yang menatap sinis. Aku juga heran mengapa tidak ada yang mau berteman denganku.
"Nih, Neng, jusnya sudah jadi," kata Bibi sambil membawa jusku.
"Hmmm, kalau lagi sedih enaknya main musik," gumamku.
Aku pun beranjak menuju ruang musik. Papaku khusus membuat ruangan ini untuk aku bermain musik. Aku pun memainkan biolaku dengan merdu.
Keeseokan harinya di sekolah, aku pergi ke perpustakaan. Di perpustakaan aku melihat banyak buku. Aku mengambil buku seru komik berjudul Little Princess.
Ketika kembali ke kelas, ada beberapa anak perempuan yang sedang berbisik-bisik. Karena pendengaranku tajam, aku mendengar bisikan mereka. Mereka berbisik seperti ini, "Itu, tuh, murid yang baru. Dia aneh, ya. Kayanya dia sakit mata, harus pakai kaca mata segala," kata anak perempuan yang berambut pendek.
"Kasihan, nggak punya teman," kata yang berambut ikal.
Aku sedih diejek seperti itu.
Pulang sekolah, aku bermain musik lagi. Ketika sedang bermain musik, kulihat ada cahaya di alat musik yang sedang aku mainkan. Ketika malam tiba, aku memandang bulan dan bintang. Aku terkejut melihat cahaya ada di depan mataku. Cahaya itu lalu berubah menjadi seorang peri cantik.
"Kamu harus selamatkan dunia, karena sebentar lagi ada musuh yang akan hancurkan dunia. Kamu harus bisa menyelamatkan sunia," kata peri itu.
Aku pun bertanya, "Tapi, bagaimana carany?"
Peri itu menjawab, "Ambil jam tangan super ini. Bila perlu pencet jam tangan supernya, maka kamu akan menjadi super. Oh iya, lupa memperkenalkan, namaku Alliana. Selamat malam, ya."
Lalu peri itu berubah kembali menjadi cahaya, terbang menuju angkasa dan menjadi bulan yang bersinar.
Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah, sampai di sekolah, di kelas terdengar ribut.
“Katanya di sekolah kita ada murid baru,” kata perempuan yang memakai bando.
"Kring… kring…," bel sekolah berbunyi.
Aku melihat di samping guruku ada anak perempuan, dia cantik sekali. Dia pun memperkenalkan namanya.
"Halo teman-teman, perkenalkan namaku Lena Salsabila. Kalian boleh memanggilku Lena."
Lena tersenyum kepadaku.
"Lena, silahkan duduk di sebelah sana," kata Bu Guru. Lena pun duduk di sebelahku.
Ketika istirahat, aku mengajak Lena bermain denganku.
"O ya, aku lupa memperkenalkan, namaku Luna," kataku sambil tersenyum.
"Jam tanganmu bagus sekali, Luna. Kamu beli di mana?" kata Lena sambil melihat jam tangan superku.
"Eng...eh...aku...beli ini...eng. Eh, kita jajan ke kantin, yuk," aku menjawab dengan gugup.
"Yuk," kata Lena dengan wajah bingung.
Di kantin, Lena bertanya lagi, "Luna, kenapa kamu gugup waktu aku tanya? Rahasia, ya?"
"Iya, itu memang rahasia. Aku kasih tau kamu nanti saja, ya. Maaf," kataku dengan wajah memelas.
"Gak papa, kok," ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun baru hari ini mengenalnya, tapi aku seudah akrab dengannya. Ketika bel sekolah berbunyi, aku menggandeng tangan Lena.
Pulang sekolah, alarm di jam tangan Luna berbunyi.
"Baiklah, hari ini pertama kali aku melakukan misi."
Aku pun memencet tombol di jam tangan itu. Aku berubah memakai rok selutut, memakai rompi sedada. Di pinggir rompi itu ada huruf S. Rambutku bertambah panjang.
SEtelah aku berubah menjadi super, aku terbang mendekati musuh itu. Aku bingung bagaimana cara melawannya. Aku bisa mengobrol dengan Peri Alianan karena ada alat khusus di telingaku.
"Peri Alliana, bagaimana caraku melawannya?" tanyaku.
"Kamu pencet tombol yang ada di tanganmu itu, lalu jam tanagn itu akan mengeluarkan tongkat. Tongkat itu adalah kekuatan kamu," kata Peri Alliana.
Aku pun mencobanya, ternyata benar, aku bisa mengalahkan jahat itu. Lalu penjahat itu terlempar jauh setelah selsai melawan jahat itu aku kembali seperti semula.
aku segera pulang ke rumah.



0 komentar:
Posting Komentar