Ada seorang ibu yang memiliki anak bernama Jessica. Ayah Jessica
menginginkan seorang anak lagi untuk menjadi adik Jessica. Kini, ibu
Jessica sedang mengandung.
Ketika sudah cukup waktunya, riba waktunya untuk melahirkan adaik
Jessica. Ibu Jessica dibantu oleh seorangbidan ketika melahirkan.
"Apakah istri saya selamat? Anak saya laki-laki atau perempuan?" tanya ayah Jessica kepada bidan.
"Istri Anda selamat. Anak Anda perempuan, kembar. Tapi ada yang aneh pada salah satu anak," kata bidan.
Mendengar hal itu, ayah Jessica segera menuju ke kamar. Betapa
terkejutnya ia ketika melihat salah seorang anak perempuan itu bermata
aneh, tangannya menyeramkan seperti monster dan rupanya buruk rupa.
Sedangkan anak yang satunya lagi cantik dan imut. Melihat hal itu,
ayahnya memalingkan muka, tidak mau melihat anaknya yang aneh itu.
"Ayah, adik-adikku dinamai siapa?" tanya Jessica kepada ayahnya.
"Anak yang aneh iu kita namain Melisa dan kemabarannya kit aanami Milisa," jawab ayahnya.
Karena rupanya yang aneh, Melisa ditempatkan di kamar yang ada di
loteng.Dia tidak boleh keluar dari loteng itu. Ada seorang pelayan yang
mengasuhnya. Sekarang umurnya sudah 9 tahun.
Di balik wajahnya yang buruk, ada seuatu yang menakjubkan. Matanya
yang aneh bisa melihat bayangan. Tangan monsternya sangat kuat dan bisa
menghancurkan istana. Dia juga sangat cerdas walaupun tidak pernah
sekolah. Pendengarannya juga sangat tajam.
Pada suatu pagi yang cerah, Melisa sedang melamun di kaamr lotengnya. Tiba-tiba terdengar ketokan di pintu kamarnya.
"Tok..tok...tok."
"Masuk," jawabnya.
Lalu pelayannya masuk ke dalam kamar loteng itu.
"Ini Neng Melisa, makanannya," kata pelayan itu.
"Makasih, Bi."
Setiap hari Melisa hanya diberi makan sedikit nasi dengan lauk tempe dan tahu.
"Sebetulnya aku ingin makan ayam goreng seperti kakak dan adikku,
tapi walaupun hanya ini aku harus bersyukur sebab masih ada orang yang
belum bisa makan," gumam Melisa.
Dia melahap nasi itu. Selesai makan, dia melamun lagi karena di situ tidak banyak yang bisa ia kerjakan.
Pada suatu hari, ada seorang yang mengetuk pintunya.
"Masuk. Makanannya simpan saja di situ, nanti aku makan," kata Melisa.
"Kakak, dimakan saja sekarang," terdengar suara orang lain, bukan pelayannya.
"Milisa," kata Melisa ketika melihat adik kembarnya yang berwajah
cantik dan imut itu. Dia terkejut karena makanannya tidak seperti
biasanya. Adiknya membawakan ayam goreng, hamburger dan susu coklat.
"Terima kasih, Milisa."
"Sama-sama. Aku pergi dulu, ya."
Esok harinya...
"Kak, Kakak tau tidak ada perlombaan pelajaran. Kakak mau ikut lomba? Kalau mau, aku bilang ke Ibu," kata Milisa.
"Aku mau ikut lomba tapi takut tidak boleh sama Ibu," kata Melisa.
"Pasti boleh. Nanti aku bilang ke Ibu," kata Milisa. Milisa segera melangkah menuju tempat ibunya berada.
"Bu, Kak Melisa boleh ikut lomba, ya, Bu? Kak Melisa, kan, pintar."
"Kak Melisa belum pernah sekolah. Jadi kalau ikut lomba dia bisa kalah," kata Ibu.
"Ibu belum tahu. Kak Melisa, kan, pintar. Coba saja Ibu tes," kata
Melisa. Akhirnya ibu itu mengetes Melisa dengan pertanyaan-pertanyaan
yang susah. Melisa bisa menjawab dengan benar semuanya. Akhirnya Melisa
boleh ikut lomba.
Hari lomba tiba...
"Ayo Melisa, Milisa, nanti telat," kata Ibu.
"Iya, Bu," kata Melisa dan Milisa sambil menaiki mobil.
Sampai di tempat lomba, anak-anak yang ikut lomba langsung mengejek
Melisa. Melisa hanya diam dan tidak menjawab ejekan anak-anak itu.
"Semua berkumpul di meja masing-masing. Sebentar lagi perlombaan akan dimulai," kata juri.
Saat pengumuman menang lomba, “Juara tiga Ketrina Mudita, juara kedua Carline Duita, dan juara satu adalah Melisa.”
Melisa mengambil hadiahnya dan pulang.
Kini semua orang tau Melisa anak pintar dan mereka tidak ada yang suka mengejek lagi. Semua menyayangi Melisa.
-TAMAT-
maaf jika ada kesalahan pada cerita di atas


0 komentar:
Posting Komentar