"Mah, Mamah lihat bando unguku tidak?" tanyaku sambil terus mencarinya.
"Mamah enggak lihat, sayang. Sini sarapan dulu aja," jawab Mama.
"Iya, Mah, tunggu sebentar."
Aku mencarinya di bawah kasur. Aku melihat ada sebuah ebnda berwarna ungu. Ternyata itu bando yang kucari.
"Akhirnya ketemu juga," kataku.
***Selesai sarapan***
"Mah, aku berangkat dulu. Asalamualaikun," kataku sambil mencium tangan Mamah.
O iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Nadira Delya. Aku biasa
dipanggil Nadira. Di sekolah, aku memiliki teman yang sombong. Dia
bernama Keyle Nurprita. Biasanya dipanggil Prita.
***Sampai di sekolah***
"Ra, masih memakai bando busukmu itu?" ejek Prita.
"Ini bukan bando busuk, tapi bando kenangan. Emang kamu punya bando yang lebih bagus?" jawabku.
"Ada. Bandoku lebih indah dari milikmu. Bandoku ada kupu-kupunya dan
ada bulu-bulu yang halus. Gak kayak kamu yang kusam dan jelek," jawab
Prita dengan angkuh.
"Dari pada bertengkar dengan Prita, lebih baik aku kabur," gumamku dalam hati.
***Pulang sekolah***
Aku sedih karena aku tidak memiliki teman. Di sekolah, semua teman
menjauhiku. Aku hanya memiliki sahabat dan teman di dunia maya. Aku
menyalakan komputerku. Aku chat dengan sahabatku. Dia bernama Vivin
Nurrita.
"Hai, Vivin."
"Hai juga, Nadira."
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik. O ya, di sekolah kamu sudah punya teman?"
"Belum."
"Gak apa, Vin. Kamu enggak usah sedih."
"Vin, kamu, kan, tinggal jauh. Nah, aku ingin bertemu kamu. Aku ingin melihat wajahmu."
"Mungkin suatu saat kita akan bertemu."
"Vin, udah dulu, ya chat-nya. Bye."
"Bye."
Aku mematikan komputer.
***Keesokan harinya di sekolah***
“Hai teman-teman, si kutu busuk datang, ha..ha..ha,” ejek Flori.
“Eh, kutu busuk buat apa kamu sekolah di sini lebih baik di tempat
lain,” ejek Chacha, dan ejekan-ejekan lainnya terus keluar dari mulut
mereka, “daripada mendengar ejekan itu lebih baik aku pergi ke taman,”
gumamku.
-BERSAMBUNG-


0 komentar:
Posting Komentar